DISTRIBUTIF KARAKTERISTIK BAYI BBLR DAN IBU HAMIL PADA PROGRAM KRISNNA DI KOTA SEMARANG

15 Januari 2026 Artikel 12 downloads

Penulis

ikfirizqiya28

Universitas

Universitas Dian Nuswantoro

Program Studi

KESEHATAN MASYARAKAT

Topik

Kesehatan Ibu Dan Anak

Kategori

Artikel

Tanggal Upload

15 Januari 2026

Deskripsi

Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan prevalensi 6,0% menurut SSGI 2022. Di Kota Semarang, kasus BBLR meningkat dari 538 (2021) menjadi 609 (2022), sebelum turun menjadi 580 (tahun berikutnya). Upaya penanganan BBLR di Kota Semarang diperkuat melalui berbagai inovasi kesehatan daerah, termasuk peluncuran program berbasis lintas sektor oleh Pemerintah Kota Semarang yang berfokus pada percepatan penurunan stunting dan pengendalian penyakit tidak menular. Adanya Program KRISNNA melalui Rumah PELITA bertujuan meningkatkan akses layanan ibu-bayi, pemberian makanan tambahan (PMT), dan pemantauan untuk pencegahan stunting. Penelitian menggunakan desain case control pada 23 bayi BBLR tahun 2025 di Rumah PELITA Kelurahan Bandarharjo (n=13) dan Karangdoro (n=7), Kota Semarang. Bayi perempuan dominan di Bandarharjo (84,61%) dan Karangdoro (57,14%). Status gizi awal di Bandarharjo: gizi baik 38,47%, stunting 30,77%; di Karangdoro: underweight 71,43%, tanpa gizi baik. Riwayat ibu: KEK 30,77% (Bandarharjo) dan anemia 57,14% (Karangdoro). Tidak ada kasus jarang ANC atau faktor usia. Status program: 50% lulus di Bandarharjo, 0% di Karangdoro.Faktor risiko utama BBLR adalah KEK dan anemia ibu hamil. Program KRISNNA efektif meningkatkan status gizi melalui PMT dan pemantauan rutin, terutama di Bandarharjo, tetapi perlu penguatan di Karangdoro untuk kurangi drop out dan risiko stunting jangka panjang.

Preview Dokumen

Browser Anda tidak mendukung preview PDF.

Download PDF